Fort Rotterdam dan Museum I La Galigo

Fort Rotterdam dan Museum I La Galigo dalam: Sejarah Sulawesi Selatan

Berdiri anggun di pantai barat Makassar, Fort Rotterdam diakui sebagai tengara kota yang paling ikonik. Dengan jejak sejarah dating kembali ke Kingom Gowa dari 16 th abad kolonisasi oleh Belanda, Benteng ini telah diam-diam menyaksikan banyak episode dalam sejarah Makassar, memainkan peran paling penting dalam perkembangannya.

Keindahan dan keaslian selalu terpikat mereka yang mengatur mata di atasnya. Seorang wartawan dari New York Times, Barbara Crossette bahkan menggambarkannya sebagai “yang terbaik diawetkan Belanda Fort di Asia”.

Awalnya bernama  Benteng  atau Fort Jumpandang atau Ujung Pandang, kompleks besar pertama kali dibangun tahun 1545 di era Daeng Bonto Karaeng Imanrigau Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng, Raja Gowa kesepuluh. Awalnya, benteng dibuat dari campuran Batu dan tanah liat dibakar, dan mengambil bentuk gaya arsitektur khas persegi Portugis.

Selama masa pemerintahan Sultan Alauddin, 14 th  raja Gowa, bahan bangunan benteng diganti dengan hitam Karst, batuan dari sisi gunung Kabupaten Maros. Benteng ini juga diperluas dan mengambil bentuk baru menyerupai penyu, sehingga benteng memperoleh nama baru, yaitu:  Benteng Pannyua (Penyu ) atau Fort penyu Laut. Bentuknya tidak hanya unik, tetapi juga mengandung makna yang dalam. Karena sama seperti kura-kura laut hidup baik di darat maupun di laut, kemuliaan Kerajaan Gowa juga membentang di darat maupun di atas laut.

Memang, orang Bugis pada waktu itu kekuatan yang diakui dan dihormati di seluruh laut Indonesia bahkan sampai ke Selat Malaka

Antara 1655-1669, pasukan Belanda menyerang Kesultanan Gowa, yang pada saat itu adalah di bawah kekuasaan Sultan Hasanuddin. Lokasi strategis di kota ini membuatnya menjadi salah satu tempat yang ideal untuk sepenuhnya mengontrol bagian perdagangan rempah-rempah, dan menjadi titik awal yang akhirnya akan membuka rute ke laut Banda dan Maluku, Kepulauan Rempah asli.

Dipimpin oleh Gubernur Jenderal Belanda Cornelis Janszoon Speelman Laksamana, pasukan Belanda melancarkan serangan besar-besaran di Makassar selama setahun penuh. Pada saat ini, bagian utama dari Fort itu hancur karena Belanda mulai menempati lahan tersebut. Sebagai hasil dari kekalahan, Sultan Gowa dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya yang memberi penguasa Belanda kontrol penuh atas perdagangan Makassar.

Gubernur Jenderal Speelman kemudian dibangun kembali bagian benteng yang hancur.Tak hanya menerapkan gaya yang berbeda Belanda pada struktur, tetapi Speelman ditambahkan benteng lain di sisi barat. Benteng ini kemudian berganti nama setelah kota asal Speelman ini: Rotterdam. Benteng tumbuh menjadi pusat penimbunan rempah-rempah dan Entrepot penting. Akhirnya ini menyebabkan Makassar menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia Timur.

Pada tahun 1938 pemerintah Belanda mendirikan Museum yang pertama di Sulawesi Selatan, yaitu Museum Sulawesi, terletak di dalam kompleks Fort Rotterdam. Awalnya museum menempati bangunan tidak ada. 2 saja, yang dulunya merupakan kediaman Laksamana Speelman. Koleksinya berasal dari berbagai penggalian yang mencakup keramik, mata uang, emas dan perhiasan, dan lainnya.

Pada saat Jepang menduduki Makassar selama Perang Dunia II, Museum Sulawesi sudah menempati tiga bangunan kompleks. Untuk koleksi yang ditambahkan alat-alat kayu, beberapa jenis kapal, peralatan pertanian, gudang, alat musik, persenjataan, dan banyak lainnya.

Setelah Perang, museum ini secara resmi didirikan kembali pada tahun 1970, menyandang nama yang diketahui saat ini, yaitu: Museum La Galigo. La Galigo adalah Lolo Pajung  atau Pangeran dari Kerajaan Luwu dalam 14 th  abad yang juga putra Sawerigading Opunna Ware, seorang pahlawan Bugis legendaris. Nama juga mengacu pada terkenal  La Galigo saya , puisi epik terpanjang di dunia. Memamerkan berbagai koleksi dari Museum Sulawesi dini serta penambahan lainnya termasuk koleksi Kerajaan Sawito, Wajo, Mandar, Luwu, Bone dan lain-lain, Museum ini menempati bangunan no.2 dan no.10 dalam kompleks Rotterdam Fort.

Akses:

Berlokasi tepat di jantung kota Makassar, tidak sulit untuk sampai ke Fort Rotterdam. Anda dapat mengambil transportasi umum lokal atau  pete-pete , atau taksi untuk sampai ke benteng. Jika Anda kebetulan berada di Pantai Losari, Anda cukup menelusuri jalan dan menikmati pemandangan sebelum Anda mencapai Fort Rotterdam.

Saran:

  • Museum ini dibuka setiap hari dari Minggu sampai Senin dari pukul 08.00 sampai 15.00 waktu setempat.
  • Biaya pendaftaran adalah Rp 3.000.
  • Silakan berkonsultasi petugas yang bertanggung jawab jika Anda ingin mengambil gambar dari beberapa koleksi museum, karena beberapa yang halus dan langka.
  • Jangan menyentuh koleksi museum untuk beberapa dari mereka yang halus dan rapuh.

Sumber: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Republik Indonesia